Qonun Asasi

Secara obyektif kurikulum adalah merupakan acuan pendidikan dan pengajaran dalam lembaga Pendidikan, karna sebagai landasan pendidikan dan pengajaran dalam lembaga tersebut oleh karena itu Disini perlu disusun kurikulum sebagai berikut :

Pasal 1

Secara garis besar pondok pesantren salaf Darul Fiqhi, adalah merupakan pondok pesantren yang filial kepada pondok pesantren salaf Langitan, oleh karena itu Referensi Mata pelajaran disesuaikan dengan mata pelajaran yang ada di pondok pesantren tersebut. Hanya saja pondok pesantren salaf Darul Fiqhi berdiri pada saat zaman globalisasi ini maka perlu adanya penambahan sistim baru selama tidak menghilangkan ciri-ciri pesantren sebagaimana banyak disinggung di bab keistimewaan setrategi pendidikan pondok.

Pasal 2

Jenis pendidikan di pondok pesantren salaf Darul Fiqhi:

  1. Pengajian weton dan sorogan merupakan prioritas mutlak pendidikan dan pengajaran pondok pesantren salaf Darul Fiqhisebagai ciri pondok pesantren salaf.
  2. Pengajian dan taman al qur’an sebagai nara sumber pendidikan dan pengajaran
  3. Madrasah Ibtidaiyah salafiyah
  4. Madrasah Tsanawiyah salafiyah
  5. Madrasah Aliyah salafiyah
  6. Madrasah Diniyah
  7. Tahfidzul Qur’an
  8. Tahassus (pendalaman pada Fan (Fakultas) tertentu.
  9. Kursus (Kuliyah umum)
  10. Mujahadah (Tarqiyah) usaha pengembangan mental.

Pasal 3

Sistem dan prioritas

  1. Pengajian weton dan sorogan secara garis besar tidak mempunyai kurikulum secara tetap hanya saja pengajian tetap di pondok pesantren salaf Darul Fiqhi diutamakan kitab-kitab yang Mu’tabar yang biasa dibaca di pondok-pondok salaf khususnya yang dibaca di pondok pesantren salaf langitan
  2. Taman dan pengajian Al qur’an adalah berbentuk formal bagi santri yang sama sekali belum mengaji Al qur’an dan non formal bagi yang sudah pernah mengaji atau hatam Al qur’an
  3. Madrasah Ibtidaiyah salafiyah diadakan tiga kelas dengan prioritas :
    • Kelas I dan II. Penguasaan membaca dan menulis, menghafal dan mendalami Aqoid-Aqoid 50 (Lima Puluh), Fasholatan atau Fiqhi dasar dan prakteknya yang lazim disebut ilmu Hal
    • Kelas II sedikit ditambah pengenalan Nahwu Shorof
    • Kelas III disamping meneruskan pendalaman membaca menulis dan pendalaman ilmu Hal (fiqhi, Aqidah Akhlaq) ditambah hafalan dan pemahaman ilmu-ilmu alat yakni Nahwu Shorof dan I’lal juga pengenalan dan praktek Ilmu Tajwid dan Tarekh (sejarah islam).
  4. Madrasah Tsanawiyah diadakan tiga kelas dengan prioritas:
    • Kelas I mendalami ilmu-ilmu Hal dan Fiqhi, Tauhid, Akhlaq dan menghafal, memahami ilmu-ilmu alat Nahwu, Shorof, I’lal dan Mentarkib ditambah mulai praktek membaca kitab gundul (kuning) ditambah hafalan Hadits-hadits dan Tarekh.
    • Kelas II mendalami ilmu-ilmu Hal dan menghafal, memahami dan mendalami ilmu faroidl dan ilmu alat ditambah Tafsir dan Hadist, Tarekh dan Persiapan Hafalan Alfiyah.
    • Kelas III menghafal, memahami, mendalami dan mempraktekkan kitab Alfiyah ke dalam kitab Taqrib yang menjadi standart mutu santri, disamping mulai dikenalkan penalaran dan penguasaan wawasan dalam memahami kitab gundul (kuning).
  5. Madrasah Aliyah Salafiyah diadakan dengan tiga kelas dengan prioritas:
    1. kelas I dan II penalaran penguasaan pendalaman kitab-kitab kuning, pemahaman dan pendalaman sumber-sumber ilmu yakni Qur’an dan Hadits beserta alat-alatnya, antara lain:a) Tafsirb) Ilmu Tafsir

      c) Ilmu Hadits

      d) Ilmu Balaghah

      e) Ilmu Manteq

      f) Ushul dan Qowaidul Fiqhi

      g) Tafsir, Tasyri’ dan lain sebagainya

    2. kelas III secara pokok mempertajam segala ilmu yang didapat dari jenjang formal atau non formal selanjutnya dirangkum dalam kerangka praktek mengajar, disamping mempersiapkan ilmu pelengkap untuk persiapan masa bakti di Masyarakat setelah lulus Aliyah.
  6. Madrasah diniyah diadakan 6 kelas dengan mengutamakan murid-murid dari masyarakat sekitar pondok yang tidak masuk di madrasah salafiyah. Adapun manajemennya disendirikan. Pengurus pondok hanya bertanggung jawab dalam pengadaan guru atau teknis pengajaran. Adapun kurikulumnya akan diatur lebih lanjut.
  7. Tahfidhul Qur’an (hafalan Al Qur’an) diadakan dengan tiga tahap (kelas).
    • Tahap I Juz 1 – 10
    • Tahap II juz 11 – 20
    • Tahap III Juz 21 – 30 (hatam)
    • Bagi santri yang menghafal minimal lulus Tsanawiyah pondok atau sederajat, dibuat demikian agar sedikit banyak para huffadh mengerti ilmu hal atau dasar-dasar mengetahui kitab kuning, dengan harapan agar nantinya para huffadh sedikit banyak mengerti kandungan Al Qur’an yang akhir-akhir ini kurang diperhatikan. Oleh karena itu bagi santri yang menghafalkan Al Qur’an harus mengikuti pengajian tafsir minimal tafsir jalalain dan bagi huffadh yang ingin mendalami Al Qur’an bisa mengikuti pengajian tahssus tafsir dan ilmu tafsir.
  8. Tahassus adalah pengajian yang dibuat secara fan (fakultas) tertentu untuk meningkatkan bakat (keahlian) santri, hal ini sesuai dengan kisah kepergian Imam Bukhori dalam menuntut ilmusebagaimana dalam kitab ta’limul Muta’allim. Adapun pengadaan pendidikan tahassus ini mungkin diadakan jangka panjang atau jangka pendek, dengan mengadakan kerjasama dengan pihak lain, baik lembaga formal atau non formal.
  9. Kursus (kuliyah umum) diadakan dengan sistim non formal untuk menunjang pengetahuan umum bagi para santri, mengingat pelajaran umum tidak diajarkan di sekolah formal pondok pesantren, dibuat demikian berdasarkan realitas bahwa kebanyakan santri ke pondok sudah memiliki ijazah SLTP atau SLTA, disamping tujuan pokok santri belajar di pondok pesantren salaf untuk memperdalam ilmu agama yang mana tidak bisa dibuat sambilan sebagaimana isyarah dalam firman Allah : “Sesungguhnya kami akan memfirmankan (memahamkan) kepadamu (Muhammad) kata-kata yang berat (Al Qur’an)”. Ayat ini menjelaskan bahwa memahami dan mendalami Al Qur’an (ilmu agama) adalah suatu hal yang berat atau rumit, lain lagi dengan ilmu umum yang sifatnya elastis dan selalu berkembang oleh karenanya pelajaran umum di pondok pesantren salaf Darul Fiqhi diadakan secara kuliah agar bisa mengikuti zaman.
  10. Mujahadah (Tarqiyah) adalah suatu bagian pendidikan yang dikhususkan pembinaan mental (bathin) yang diadakan untuk membekali santri senior sebagai bekal terjun masyarakat. Oleh karena itu kelas mujahadah diutamakan ilmu tashowwuf, tirakat-tirakat, kebiasaan dzikir (wiridan), Khidmah atau ubudiyyah yang lain sebagai upaya (ikhtiyar) mengadakan pendekatan dan minta petunjuk kepada Allah SWT.  Sebagaimana firman Allah : “Dan orang yang bersungguh-sungguh (mujahadah) kepada-Ku niscaya akan aku tunjukkan jalan-Ku”. dan sabda rasulullah SAW: “Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah mendapat petunjuk maka tidak bertambah dekat dengan Allah melainkan bertambah jauh”.

 

Lain-Lain

  1. Untuk pelajaran keterampilan ditangani oleh Departemen pengembangan usaha dan Departemen Humasy.
  2. Khusus pelajaran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris diajarkan pendidikan Formal. Dan selanjutnya dibuat bahasa percakapan setiap hari disamping bahasa arab
  3. hal yang belum tertulis di sini insya Allah akan disempurnakan di pedoman pendidikan dan pengajaran (Dedaktik Metodik) Pondok Pesantren salaf Darul Fiqhi
  4. Untuk materi mata pelajaran suatu saat, mungkin mengalami sedikit perubahan, sepanjang tidak bertentangan dengan qonun asasi.
  5. Semua santri Pondok Pesantren Darul Fiqhi yang hendak pulang kampung (boyong) harus mengakhiri mondok di Pondok Pesantren Langitan untuk tabarukan kepada mayayekh Pondok pesantren Langitan yang merupakan induk Pondok Pesantren Darul Fiqhi minimal tiga bulan.